Jumat, 10 Mei 2013

IBNU MISKAWAIH DAN IKHWAN AL-SHAFA




A.    Pendahuluan

Dalam  kajian  filsafat Islam, Ibn  Miskawaih dan  Ikhwan al-Shafa merupakan sosok filsuf  yang sangat penting untuk terus dikaji teori filsafatnya, karena hasil pemikiran  mereka yang  sangat cemerlang dan  keilmuannya telah  banyak memperikan kontribusi terhadap kemajuan dan perkembangan keilmuan Islam. Ibn Miskawaih seorang filosof  yang  mendasari  pemikirannya dengan pokok-pokok  ajaran Islam, ia dikenal sebagai Bapak etika. Oleh karena itu penting rasanya supaya filsafat ini senantiasa dikaji,  mungkin di dalamnya  ada  nilai-nilai yang  layak untuk diteladani atau diperaktekkan, karena pada masa sekarang ini Islam  merindukan orang-orang cerdas dan berpemikiran  maju seperti Ibn Miskwaih dan Ikhwan al-Shafa.
Pembahasan ini meliputi riwayat singkat tentang kehidupan mereka dan  filsafatnya. Pembahasan ini dibuat dalam bentuk makalah dan disajikan dalambentuk diskusi.
Harapan penulis makalah ini dapat menambah khazanah keilmuan kita khususnya di bidang filsafat. Namun kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan, maka penulis sangat mengharapkan  kritik, saran dari semua pihak untuk kesempurnaan makalah ini.

B.     Riwayat hidup Ibn Miskawaih

Nama lengkapnya adalah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Ya’qub Ibn Miskawaih. Ia  lahir pada tahun 320 H/ 932 M. di Rayy, dan  meninggal di Isfahan  pada tanggal 9 Shafar  tahun  412 H/ 16 Februari 1030 M.         Ibn Miskawaih hidup pada masa pemerintahan Dinasti Buwaihi (320-450H./ 932-1062 M.) yang sebagian besar pemukanya bermazhab Syi’ah.[1]
Dari segi latar belakang pendidikannya tidak dijumpai data sejarah yang rinci. Namun dijumpai keterangan, bahwa ia mempelajari sejarah dari Abu Bakar Ahmad Ibn Kamil al-Qadhi, mempelajari filasafat dari Ibn al-Akhmar, dan mempelajari kimia dari Abu Tayyib.[2]
Dalam bidang  pekerjaan Ibn Miskawaih adalah bendaharawan, sekretaris,  pustakawan, dan  pendidik anak para pemuka dinasti Buwahi. Selain akrab dengan  penguasa, ia juga banyak bergaul dengan ilmuan seperti Abu Hayyan  at-Tauhidi, Yahya Ibn  ‘Adi dan Ibn Sina. Selain itu Ibnu Miskawaih juga dikenal sebagai sejarawan  besar  yang  kemasyhurannya melebihi  para pendahulunya, at-Thabari (w. 310 H./ 923 M.)  selanjutnya  juga  ia dikenal sebagai dokter, penyair dan ahli bahasa. Keahlian Ibn Miskawaih dalam berbagai bidang ilmu tersebut antara lain dibuktikan dengan karya tulisnya berupa buku dan artikel.[3]
Di antara karya tulisnya adalah:
a.       Al-Fauz al-Akbar
b.      Al-Fauz al-Asghar
c.       Tajarib al-Umam (Sebuah sejarah tentang banjir besar yang ditulisnya pada tahun 369 H/979 M.)
d.      Uns al-Farid (Koleksi anekdot, sya’ir, pribahasa, dan kata-kata hikmah).
e.       Tartib al-Sa’adat (akhlak dan politik).
f.       Al-Mustaufa (sya’ir-sy’ir pilihan)
g.      Jawidan Khairad (koleksi ungkapan bijak)
h.      Al-Jami’
i.        Al-Siyab
j.        On the Simple Dreugs (kedokteran)
k.      On the Compisiton of the Bajats (Seni memasak).
l.        Kitab al-Ashribah (tentang inuman).
m.    Tahzib al-Akhlaq (akhlak)
n.      Risalat fi al-Lazzat wa al-Alam fi Jauhir al-Nafs
o.      Ajwibat wa As’ilat fi al-Nafs wa al-‘Aql
p.      Al-Jawab fi al-Masail al-Salas
q.      Risalat fi Jawab fi Sau’al Ali Ibn Muhammad abu Hayyan al-Shufi fi haqiqat al-‘Aql
r.        Thaharat al-Nafs.[4]
Menurut Ahmad Amin sebagaimana dikutip oleh Abuddin Nata, bahwa semua karya Ibn Miskawaih tidak  luput dari kepentingan filsafat dan akhlak. Sehubungan dengan itu Ibnu Miskawaih dikenal sebagai moralis.[5]

C.    Filsafat jiwa
Pada manusia itu terdapat materi tubuh dan jiwanya. Tubuh dan jiwa itu mempunyai esensi dan subtansi yang berbeda.
An-Nafs  (jiwa)  menurut Ibn Miskawaih, adalah  jauhar  rohani yang tidak hancur dengan  sebab kematian  jasad. Ia adalah  kesatuan yang tidak terbagi-bagi. Ia akan  tetap hidup. Ia tidak dapat diraba dengan panca indera. Jiwa dapat menangkap bentuk  sesuatu yang berlawanan dalam waktu yang bersamaan, seperti  warna hitam  dan putih sedangkan badan tidak dapat seperti itu[6]. Artinya jika tubuh menerima suatu bentuk tertentu, maka dengan bentuk itu  dia tidak bisa lagi menerima bentuk lain dalam satu waktu melainkan  bila ia telah meninggalkan bentuknya yang pertama secara sempurna. Seperti kalau materi tubuh sedang menerima bentuk segi empat, maka ketika itu dia tidak bisa menerima bentuk lingkaran atau segi tiga.
Sedangkan jiwa bisa menerima semua bentuk  dari sesuatu, baik yang abstrak maupun yang kongkrit secara sempurna, bentuk pertama yang diterima oleh jiwa tidak akan  hilang dengan datangnya bentuk  kedua dan seterusnya. Karena itulah  pengetahuan manusia selalu bertambah setiap kali jiwa menerima pengetahuan baru, Ketika menerima pengetahuan baru pengetahuan  lama tidaklah  hilang. Inilah yang menjadi dalil bagi Ibn Miskawaih membedakan subtansi, tabiat antara jiwa dengan jasad.
Pandangan Ibn Miskawaih sangat berbeda dengan kaum materialistis yang meniadakan  roh bagi manusia. Ibn Miskawaih membuktikan adanya roh pada manusia dengan argumennya seperti di atas. Namun roh tidak dapat bermateri, sekalipun ia bertempat pada materi, karena materi  hanya menerima satu bentuk dalam waktu tertentu.
Ibn Miskawaih juga membedakan antara pengetahuan jiwa dengan pengetahuan panca indera. Secara tegas ia katakan bahwa panca indera tidak dapat menangkap selain apa yang dapat diraba atau di indera. Sedangkan jiwa dapat menangkap apa yang dapat ditangkap oleh indera dan yang tidak dapat diraba oleh indera.
Jiwa mempunyai tiga kekuatan di dalam diri manusia, yaitu;
1.      Kekuatan untuk berfikir, (An- Nafsun-Nathiqah) jiwa yang berfikir, ini mendorong untuk memahami dan membedakan sesuatu.
2.      Kekuatan untuk marah, (An-Nufus-Sabu’iyah) jiwa yang ganas, ini mendorong untuk berlaku berani, rindu, dan sebagainya.
3.      Kekuatan yang menimbulkan syahwat, (An-Nafsul Bahimiyah) jiwa yang bebal. Ini mendorong untuk makan, minum, dan kelezatan-kelezatan fisik lainnya.
Kekuatan-kekuatan jiwa tersebut saling berlomba untuk menjadi paling depan, antara satu dengan yang lainnya akan saling tekan menekan. Manusia yang paling baik adalah manusia yang mempunyai kekuatan nafsu nathqiyah yang lebih unggul dibanding kekuatan yang lainnya karena dengan demikian akan mendapatkan bantuan atau bimbingan dari malaikat.


D.    Filsafat Akhlak
Ibnu Miskawaih adalah seorang moralis yang sangat terkenal. Keistimewaan yang sangat menarik dalam kajiannya ialah pembahasannya yang didasarkan kepada al-Qur’an dan hadits. Namun bukan berarti ia tidak memakai sumber lain seperti filsafat Yunani kuno dan pemikiran Persia. Ibnu Miskawaih tetap merujuk kepada filsafat Yunani dan pemikiran-pemikiran Persia, akan tetapi hanya sebatas yang sesuai dengan ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan hadits. Apabila terjadi pertentangan dengan  prinsip dasar Al-Qur’an dan hadits ia tidak mengambilnya. Jadi filsafat Yunani dan pemikiran Persia hanya dijadikannya sebagai pelengkap dan penyempurna saja[7].
Akhlak menurut konsep Ibnu Miskawaih adalah suatu sikap mental atau keadaan jiwa yang mendorong seseorang untuk berbuat tanpa pikir dan pertimbangan sebelumnya. Sementara tingkah laku manusia terbagi kepada dua unsur, unsur watak naluriah dan unsur yang lahir lewat kebiasaan dan latihan[8].
Dari pengertian akhlak yang dikemukakan oleh Ibn Miskawaih tersebut, bisa dipahami bahwa akhlak sifatnya adalah spontanitas. Respon yang langsung diberikan seseorang terhadap sesuatu, maka itu mencerminkan keperibadian (akhlaknya). Apabila respon atau tindakan yang diberikan terhadap sesuatu telah didasari pemikiran atau pertimbangan berarti itu bukanlah kepribadian sesungguhnya.
Dari pernyataan di atas juga bisa dipahami, bahwa secara tidak langsung Ibn Miskawaih menolak pendapat yang menyatakan bahwa akhlak tidak bisa berubah. Dalam konsep Ibn Miskawaih akhlak tercela bisa berubah menjadi akhlak mulia melalui pendidikan dan latihan-latihan. Pemikiran seperti ini jelas sejalan dengan ajaran islam. Pada hakikatnya ajaran syari’at Islam  mengarahkan  manusia kepada perubahan akhlak, dari akhlak tercela kepada akhlak yng terpuji. Bahkan Nabi Muhammad sendiri menjelaskan bahwa misi penting diutusnya beliau ke dunia ini adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Mustahil akhlak manusia tidak dapat berubah, sedangkan naluri bintang saja bisa berubah dari galak menjadi bersahabat, dari liar menjadi jinak dan sebagainya. Tegasnya bagi Ibn Miskawaih tujuan agama ialah untuk mengarahkan akhlak manusia ke arah akhlak yang mulia.
Tentang masalah baik dan buruk, Ibn Miskawaih mengatakan, bahwa kebaikan  itu ada dalam objek, namun kebaikan yang dalam objek itu dipandang oleh manusia dengan kaca mata yang berbeda-beda (bersifat relatif). Karena berlainan sisi pandang maka kebaikan itu menjadi banyak sebanyak cara orang yang memendangnya.
Ada yang mengatakan kebaikan itu terbagi tiga macam, yaitu: sesuatu yang mulia, sesuatu yang terpuji, dan sesuatu yang bermanfaat. Sesuatu yang mulia itu dimuliakan karena zatnya, karena itu orang yang memangkunya akan mulia pula, karena zat kemuliaan melekat pada dirinya. Sesuatu yang terpuji dianggap baik karena ia muncul dari yang baik. Demikian juga sesuatu yang memberi manfaat dianggap baik karena ia menyampaikan kepada kebaikan. Demikian salah satu pandangan tentang kebaikan.
 Menurut Ibn miskawaih akhlaq merupakan bentuk jamak dari khuluq yang berarti peri keadaan  jiwa untuk mengajak seseorang melakukan perbuatan-perbuatan tanpa dipikirkan dan diperhitungkan sebelumnya. Sehingga dapat dijadikan fitrah menusia maupun hasil dari latihan-latihan yang telah dilakukan, hingga menjadi sifat diri yang dapat melahirkan semua perbuatan yang bernialai kebaikan.[9]
Ibn Miskawaih juga menjelaskan tentang sifat-sifat yang utama. Sifat-sifat ini menurutnya erat kaitannya dengan jiwa. Jiwa memiliki tiga daya: daya berpikir, daya marah dan daya keinginan. Sifat hikmah adalah sifat utama bagi jiwa berpikir yang lahir dari ilmu. Berani adalah sifat utama bagi jiwa marah, yang timbul dari sifat hilm (menahan diri). Sedangkan murah adalah sifat utama bagi jiwa keinginan, yang lahir dari iffah (memelihara kehormatan diri), dengan demikian tiga sifat utama, yakni hikmah, berani, dan murah. Apabila ketiga sifat utama ini serasi, maka muncul yang keempat, yakni adil. Adapun  lawan dari sifat utama  ini adalah bodoh, rakus, penakut, dan zalim.[10]
Ada pun kebahagiaan dapat dirasakan oleh kedua unsur yang ada pada manusia, yaitu jasad dan roh. Kebahagiaan yang dirasakan oleh jasad bersifat material sedangkan Kebahagian yang dirasakan oleh roh adalah bersifat spiritual. Kebahagiaaan yang bersifat material selalu diimbangi oleh kepayahan dan kepedihan, tetapi kebahagiaan spiritual lebih sempurna dan lebih kekal nikmatnya. Ia dapat dicapai bila kebahagiaan material dapat dilepaskan  secara berangsur. Bila kebahagian material telah dilepaskan dapatlah orang meningkat naik menuju kesempurnaan sejati.
Menyangkut balasan di akhirat Ibn  Miskawaih mengatakan bahwa jiwalah yang akan  menerima balasan (kebahagian dan kesengsaraan) di akhirat. Karena menurutnya kelezatan jasmaniah bukanlah kelesatan yang sebenarnya.



IKWAN AL-SHAFA

A.    Sejarah Kelahiran dan Karyanya
Ikhwan al-Shafa adalah  nama se-kelompok pemikir Islam berasal dari sekte Syi’ah Isma’iliyah yang lahir di tengah-tengh komunitas Sunni sekitar abad ke-4 H/ 10 M. di Bashrah. Kelompok ini merupakan gerakan bawah tanah yang mempertahankan semangat berfilsafat khususnya dan pemikiran rasional umumnya dikalangan pengikutnya. Kelompok ini mereka sebut juga dengan Khulan al-Wafa’ Ahl al-Adl dan Abna’ al-Hamd. Tokoh terkemuka yang menjadi peloper organisasi ini adalah Ahmad Ibn Abd Allah, Abu Sulaiman Ibn Nashr al-Busti yang terkenal dengan sebutan al-Muqaddasi, Zaid Ibn Rafi’ah dan Abu al-Hasan Ali Ibn Harun al-Zanjani.[11]
Munculnya organisasi yang bergerak di bidang keilmuan dan juga bertendensi politik ini erat kaitannya dengan kondisi Islam pada masa itu. Sejak pembatalan teologi Mu’tazilah sebagai mazhab Negara oleh Al-Mutawakkil, maka kaum rasionalis dicopot dari jabatan pemerintahan, dan kemudian diusir dari Baghdad. Berikutnya penguasa melarang mengajarkan kesusasteraan dan ilmu filsafat. Kondisi seperti ini ternyata berlanjut sampai pada khalifah-khalifah berikutnya. Hal ini membut semakin suburnya cara berpikir tradisional dan  semakin langka cara berpiki rasional.
Atas kondisi inilah lahirnya Ikhwan al-Shafa yang ingin menyelamatkan masyarakat dan mengembalikan manusia kepada jalan yang diridhai Allah. Karena menurut mereka ajaran syari’at telah ternodai dengan bermacam-macam kejahilan dan kesesatan. Maka satu-satunya cara untuk membersihkannya adalah filsafat.[12]
Jemaat Ikhwan al-Shafa terdiri dari empat kelompok, yaitu: pertama, kelompok yang mereka sebut Al-Ikhwan al-Abrar al-Ruhama (para saudara yang baik dan dikasihi). Kelompok ini adalah mereka yang berusia dari 15 sampai 30 tahun. Kedua, kelompok yang mereka sebut Al-Ikhwan Al-Akhyar Al-Fudhala (para saudara yang terbaik dan utama). Kelompok ini mereka yang berusia dari 30 sampai 40 tahun. Ketiga, kelompok yang mereka sebut Al-Ikhwan Al-Fudhala Al-Karim (para saudara yang utama dan mulia). Kelompok ini mereka yang berusia 40 sampai 50 tahun, keempat, kelompok yang berusia 50 tahun ke atas, kelompok elit yang hati mereka telah terbuka dan menyaksikan kebenaran dengan mata hati mereka sesuai dengan kelompok mereka untuk menelaah dan mengkaji ilmu pengetahuan, filsafat, dan  agama seperti yang mereka tulis dalam risalah-risalah mereka.[13]
Dari gambaran di atas maka bisa dipahami bahwa  tujuan mereka merahasiakan atau menutup diri paling kurang untuk menjaga keselamatan diri mereka, baik dari pihak yang mencurigai dan mememusuhi filsafat, atau dari pemerintah yang berkuasa ketika itu.
Ikhwan Al-Shafa mempunyai karya yang banyak, karya beliau terdiri dari 52 naskah yang disusun menjadi empat kelompo:
1.      Tentang matematika, kelompok ini terdiri dari empat belas naskah, meliputi geometri, astronomi, music, geigrafi, seni teoritis dan praktis, moral, dan logika.
2.      Tentang ilmu alam dan fisika, kelompok ini terdiri dari tujuh belas naskah yang meliputi fisika, meneraligi, botani, alam kehidupan dan kematian, dan batas-batas kemampuan pemahaman manusia.
3.      Sain tentang pemikiran dan psykologi, meliputi sepuluh naskah antara lain metafisika dan pemikiran tentang edar dan waktu, tabi’at cinta, dan kebangkitan kembali pada hari kiamat.
4.      Ilmu tentang agama dan ketuhanan, terdiri dari sebelas naskah yang meliputi tentang keimanan da upacara ritual, peratutaran tentang hubungan manusia dengan tuhan, upacara-upacara Ikhwan Al-Shafa, ramalan dan keadaan mereka, entitas (perwujudan spiritual dan tindakan. Type perundangan politik, takdir, ilmu gaib, dan ‘azimat (jimat). Secara garis besar, pemikiran Ikhwan Al-Shafa bersifat liberal. Meski tetap ingin memadukannya dengan Islam.[14]

B.     Filsafat Ketuhanan dan Penciptaan
Sebagaimana Al-Farabi, Ikhwan al-Shafa juga menganut paham penciptaan alam oleh Tuhan melalui cara emanasi. Paham emanasi mereka berbeda dengan paham Al-Farabi. Menurut paham emanasi Ikhwan al-Shafa, dari Tuhan memancar akal universal atau akal aktif, dari akal universal memancar jiwa universal, dari jiwa universal memancar materi pertama, bentuk-bentuk dan jiwa-jiwa. Jiwa universal dengan bantuan akal universal menggerakkan materi pertama sehingga mengambil bentuk yang memiliki dimensi panjang, lebar, dan tinggi sehingga terbentuk raga atau jisim yang mutlak, dan dengan tubuh yang  mutlak itu tersusun alam  langit dan unsur yang empat (tanah, air, udara, dan api). Karena pengaruh gerakan langit yang berputar, terjadilah percampuran  unsure yang empat sehingga dapat  muncul mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia. Di alam langit yang lebih dulu muncul adalah yang paling mulia (akal universal, kemudian jiwa universal, dan seterusnya), sedangkan di bumi yang paling akhir muncul adalah yang paling mulia (diawali dengan mineral, tumbuh-tumbuhan, kemudian hewan, dan terakhir manusia). Bila di urutkan Tuhan dan kemunculan wujud alam itu dari yang pertama sampai yang terakhir, maka urutannya adalah: (1) Tuhan, (2) akal universal, (3) jiwa universal, (4) materi pertama dan bentuk, (5) tabiat, (6) tubuh mutlak, (7) falak/langit, (8) unsur yang empat (tanah, air, udara, dan api), dan (9) yang dilahirkan dari unsur yang empat dan tanpa jiwa, mulai dari benda-benda logam atau material, tumbuhan, binatang.[15] Bila pada Al-Farabi, penciptaan alam merupakan akibat aktivitas Tuhan berfikir tentang diri-Nya, maka pada filsafat Ikhwan al-Shafa, penciptaan alam  oleh Tuhan adalah manifestasi kepemurahan Tuhan. Tuhan menciptakan segenap alam rohani dan potensi dalam raga yang tersusun sekaligus. Ia menciptakan alam rohani sekaligus, sedangkan alam tubuh/raga tersusun dan diciptakan-Nya tidak sekaligus, tetapi berangsur-angsur dengan cara merobahnya dari keberadaan potensial kepada keberadaan aktual. Keberadaan ayah secara aktual lebih dahulu dari keberadaan anak secara aktual, akan tetapi keberadaan keduanya secara potensil adalah sama. Tuhan berperan sebagai sebab pertama dan langsung bagi keberadaan akal universal, tapi hanya sebagai sebab pertama dan tidak langsung bagi keberadaan, dan terjadinya perubahan pada ciptaan-Nya yang lain.[16]
Tentang adanya Allah, menurut Ikhwan al-Shafa, merupakan hal yang sangat mudah dan nyata. Hal ini disebabkan manusia dengan fitrahnya dapat mengenal allah dan seluruh yang ada ini  akan membawa manusia kepada kesimpulan pasti tentang adanya Allah yang menciptakan segala yang ada.
Tentang ilmu Allah mereka kataan bahwa seluruh pengetahuan berada dalam ilmu Allah sebagaimana beradanya seluruh bilangan dalam bilangan satu. Berbeda dengan ilmu para pemikir, ilmu Allah dari zat-Nya sebagaimana bilangan yang banyak dari bilangan yang satu, yang meliputi seluruh bilangan. Demikin pula ilmu Allah terhadap segala yang ada.[17]

C.    Jiwa Manusia
Jiwa manusia bersumber dari jiwa universal. Dalam perkembangan selanjutnya  jiwa manusia banyak dipengaruhi  oleh materi yang terdapat di sekitarnya. Agar jiwa tidak kecewa dalam  perkembangannya, maka jiwa dibantu oleh akal yang merupakan daya bagi jiwa untuk berkembang.
Pengetahuan diperoleh melalui  proses berpikir. Anak-anak pada mulanya seperti kertas putih yang bersih belum ada coretan. Lembaran tersebut akan tertulis dengan adanya tanggapan panca indera yang menyalurkannya ke otak bagian depan yang memiliki daya imajinasi (al-quwwat al-mutakhayyilat). Dari sini meningkat ke daya berpikir (al-quwwat al-mufakkirat) yang terdapat pada otak bagian tengah. Pada tingkat ini manusia sanggup membedakan antara benar dan salah, antara baik dan buruk. Setelah itu disalurkan ke daya ingatan  (al-quwwat al-hafizhat) yang terdapat pada otak bagian belakang. Pada tingkat ini seseorang sudah sanggup menyimpan hal-hal abstrak yang diterima oleh daya berpikir. Tingkat terakhir adalah daya berbicara (al-quwwat al-nuathiqat), yaitu kemampuan mengungkapkan pikiran dan ingatan itu melalui tutur kata yang bermakna kepada pendengar atau  menuangkannya lewat bahasa tulis kepada membaca.[18]
Manusia selain mempunyai indera yang zahir, juga memiliki indera batin yang berfungsi  mengolah hal-hal yang ditangkap oleh indera zahir sehingga melahirkan konsep-konsep.
Dalam tubuh manusia, jiwa memiliki tiga fakultas.
a.       Jiwa tumbuhan
Jiwa ini dimilikimoleh semua makhluk hidup: tumbuhan, hewan, dan manusia. Jiwa ini terbagi dalam tiga daya: makan, tumbuh, dan reproduksi.
b.      Jiwa hewan
Jiwa ini hanya dimiliki oleh hewan dan manusia. Ia terbagi dalam dua daya: penggerak dan sensasi (persepsi dan emosi)
c.       Jiwa manusia
Jiwa ini hanya dimiliki oleh manusia. Jiwa yang mendorong manusia untuk berpikir dan berbicara.
Ketiga fakultas jiwa di atas bersama dengan daya-dayanya bekerja sama dan mdalam diri manusia. Di sinilah letak kelebihan manusia disbanding ciptaan Allah yang lainnya.
Sementara itu tentang kebangkitan di akhirat, Ikhwan al-Shafa ternyata pendapatnya tidak berbeda dengan pendapat para filosof muslim pendahulunya, yakni kebangkitan berbentuk rohani. Sorga dan neraka dipahami secara makna  hakikat. Sorga adalah kesenangan dan neraka adalah penderitaan.[19]


[1] . Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003), h. 5
[2] . Ibid.
[3] . Ibid.
[4] . Sirajuddin Zar, Filsafat Islam 1, (Padang: IAIN Press, 2003), h. 80
[5] . Abuddin Nata, Op.cit, h. 6
[6] . Sirajuddin Zar, Op.cit, h. 84
[7]. Sirajuddin Zar, Filsafat Islam Filosof dan Filsafatnya, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004), h. 135
[8]. Ibid
[9]. Abuddin Nata, op.cit., h. 11
[10]. Sirajuddin Zar, op.cit., h.86
[11]. Sirajuddin Zar, loc.cit, h. 96
[12]. Ibid, h.97
[13] . Abdul Aziz Dahlan, Pemikiran Falsafi Dalam Islam, (Padang: IAIN IB Press, 1999),h. 70
[14]. Tasman Ya’cub, Filsafat Islam, (Padang: IAIN IB Press, 1999), h. 44
[15] Abdul Aziz Dahlan, Op.Cit., h. 73-74
[16] Ibid, h. 74
[17]. Zirajuddin Zar, Op.Cit., h. 148
[18]. Ibid, h. 152
[19]. Ibid, h. 153

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar